Leadership and Power
Kepemimpinan
Kepemimpinan
adalah sebagai pelaksanaan otoritas dan pembuatan keputusan, suatu inisiatif
untuk bertindak yang menghasilkan suatu pola yang konsistensi dalam rangka
mencari jalan pemecahan suatu persoalan bersama.
Perbedaan Management dan Leadership
Manajemen merupakan
jenis pemikiran yang khusus dari kepemimpinan di dalam usaha mencapai tujuan
organisasi. Dalam artian yang luas, kepemimpinan dapat dipergunakan setiap orang dan
tidak hanya terbatas berlaku dalam organisasi. Menurut Miftah Thoha, kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh
aturan-aturan atau tatakrama birokrasi.
Namun
apabila kepemimpinan itu dibatasi oleh tata krama birokrasi atau dikaitkan
terjadinya dalam suatu organisasi disebut Manajemen.
Dapat saja seorang manajer berperilaku sebagai seorang pemimpin, asal mampu
mempengaruhi perilaku orang-orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan
perkataan lain, pemimpin belum tentu seorang manajer, tetapi seorang manajer
bisa berperilaku sebagai seorang pemimpin.
A. Penelitian
Studi IOWA
Kepemimpinan mulanya dilakukan pada tahun 1930 oleh Ronald Lippitt dan
Ralph K. White dibawah arahan Kurt Lewin di Universitas Iowa. Terbentuklah klub
hobi anak yang berumur 10 tahun dalam penelitian ini, dimana setiap klub
diminta memainkan tiga style kepemimpinan, yakni: otokratis, demokratis, laissez
faire. Pemimpin yang otoriter bertindak sangat direktif, selalu
memberikan arahan dan tidak memberikan kesempatan untuk berpendapat. Pemimpin
yang demokratis mencoba untuk bersikap objektif didalam pemberian kritik atau
pujian, dan membentuk kelompok diskusi dalam pembuatan keputusan. Pemimpin
semaunya sendiri (laissez faire) memberikan kebebasan yang mutlak pada
kelompok. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan dalam
variabel-variabel kepuasan dan frustasi-agresi.
Setelah dilakukannya penelitian terhadap tiga gaya kepemimpinan terhadap
klub anak, maka dapat disimpulkan bahwa anak-anak lebih menyukai pemimpin yang
demokratis dibandingkan pemimpin yang otokratis. Didalam penelitian Iowa tidak
mengungkapkan pengaruh langsung dari gaya kepemimpinan tersebut pada
produktivitas. Eksperimen yang pokok dirancang hanya untuk mengamati pola
prilaku agresif. Yang hasilnya suatu perilaku kelompok-kelompok yang apatis,
ketika pemimpin yang otokratis keluar ruangan, maka meletuslah sikap
agresifnya. Gaya kepemimpinan laissez faire menghasilkan
sejumlah besar perbuatan agresif dari kelompoknya, sedangkan gaya kepemimpinan
demokratis berada diantara satu agresif dan empat apatis dalam kelompok yang
otokratis.
B. Penelitian
Studi OHIO
Tahun 1945, Biro Penelitian Bisinis dari Universitas Negeri Ohio menemukan
penemuan dalam bidang kepemimpinan. Studi Ohio memulai penelitian dengan premis
bahwa tidak ada kepuasan atas rumusan atau definisi kepemimpinan yang ada.
Dengan asumsi terdahulu bahwa kepemimpinan selalu diartikan sama dengan
kepemimpinan yang baik.
Staf peneliti Ohio merumuskan kepemimpinan sebagai suatu perilaku seorang
individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu grup ke arah pencapaian
tujuan tertentu. Dalam hal ini pemimpin memiliki deskripsi perilaku atas dua
dimensi, yaitu struktur pembuatan inisiatif dan perhatian. Struktur pembuatan
inisiatif menunjukkan perilaku pemimpin dalam menentukan hubungan kerja antara
dirinya dengan yang dipimpin. Perilaku perhatian menggambarkan perilaku
pemimpin yang menunjukkan kesetiakawanan, bersahabat, saling percaya,
dan kehangatan didalam hubungan antara pemimpin dan anggota staf.
Perilaku inilah yang diteliti oleh Universitas Ohio.
Dimana ditemukan bahwa kedua perilaku
tersebut sangat berbeda dan terpisah satu sama lain. Nilai yang tinggi dalam
pada suatu dimensi tidaklah mesti diikuti rendahnya nilai dari dimensi yang
lain. Perilaku pemimpin dapat pula merupakan kombinasi dari dua dimensi
tersebut.
C. Penemuan
Klasik Studi Michigan
Pusat Riset Survei Unversitas Michigan dan kantor riset angkatan laut
melakukan sebuah penelitian dengan tujuan untuk menentukan prinsip-prinsip
produktivitas kelompok dan kepuasan anggota kelompok yang diperoleh dari
partisipasi mereka. Maka pada tahun 1947, dilakukan penelitian di Newark, New
Jersey, pada perusahaan asuransi Prudential.
Pada penelitian di Newark, New Jersey tersebut pengukuran yang sistematis
dibuat berdasarkan persepsi dan sikap para pengawas dan pekerja. Variabel ini
dihubungkan dengan pengukuran-pengukuran pelaksanaan pekerjaan. Rancangan riset
juga memasukkan suatu derajat kontrol yang tinggi atas variabel-variabel
nonpsikologis yang mungkin mempengaruhi semanagat kerja dan produktivitas.
Dengan demikian, faktor-faktor tertentu, misalnya bentuk pekerjaan, kondisi
pekerjaan, dan metode kerja terkendalikan semuanya.
Dua belas pasang produktifitas tinggi rendah diseleksi untuk diuji. Setiap
pasang mewakili seksi produksi tinggi dan seksi produksi rendah, dengan
variabel lainnya. Interview bebas dilaksanakan dengan mewawancarai 24 pengawas
seksi dan 419 pekerja tata usaha. Hasilnya menunjukkan bahwa pengawas pada
seksi produksi tinggi lebih memberikan pengawasan terbuka pada bawahannya
dibandingkan pengawasan yang ketas dan berorientasi pada pekerja daripada
berorientasi pada produksi, sedangkan seksi produksi rendah mereka lebih
menyukai pengawasan yang ketat dan berorientasi pada produksi.
Teori-Teori Kepemimpinan
1.
Teori Sifat (Trait
Theory)
Pada
zaman Yunani Kuno dan Roma, orang-orang percaya bahwa pemimpin itu dilahirkan,
bukannya dibuat (The Great Man). Contohnya adalah Napoleon yang dipercaya
memiliki kemampuan alamiah sebagai pemimpin.
Setelah mendapat pengaruh dari
aliran psikologi, kenyataanya sifat-sifat kepemimpinan itu tidak seluruhnya
dilahirkan, tetapi dapat juga dicapai lewat suatu pendidikan dan pengalaman. Di
tahun 1930-1950 dilakukanlah penelitian yang berpusat pada sifat-sifat fisik,
mental, dan kepribadian. Dari beberapa
hal sifat kecerdasan menjadi sifat yang selalu nampak dengan derajat
konsentrasi yang tinggi. Kesimpulan dari penelitian-penelitian tersebut adalah
para pemimpin hendaknya harus lebih besar dan cerdas dibandingkan dengan yang
dipimpin.
Namun dalam organisasi ternyata
keberhasilan seorang manager tidak memiliki korelasi dengan sifat-sifat
pemimpin. Oleh sebab itu Keith Davis merumuskan empat sifat umum yang nampaknya
mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi.
a. Kecerdasan
Pemimpin mempunyai tingkat
kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin. Namun
kecerdasan yang lebih tinggi ini tidak terpaut jauh bedanya dengan para
pengikutnya.
b. Kedewasaan
dan keluasan hubungan
Pemimpin cenderung lebih matang dan
mempunya emosi yang stabil terhadap aktivitas sosial, serta mempunyai keinginan
dihargai dan menghargai.
c. Motivasi
diri dan dorongan berprestasi
Pemimpin memiliki dorongan motivasi
untuk berprestasi, mendapatkan penghargaan yang intrinsik dibandingkan yang
ekstrinsik.
d. Sikap-sikap
hubungan kemanusiaan
Pemimpin yang berhasil akan mau
mengakui harga diri dan kehormatan para pengikutnya. Dalam Universitas Ohio hal
ini disebut perhatian sedangkan pada penemuan Michigan disebut berorientasi
pada karyawan.
2.
Teori Kelompok
Teori
kelompok beranggapan agar kelompok dapat mencapai tujuan-tujuannya maka harus
ada suatu pertukaran yang sositif antara pemimpin dengan para pengikutnya.
Kepemimpinan ditekankan pada adanya suatu proses pertukaran antara pemimpin dan
pengikutnya, terutama pada dimensi pemberian perhatian kepada para pengikut.
Suatu penelitian menunjukan bahwa
para pemimpin yang memperhitungkan dan membantu pengikut-pengikutnya mempunyai
pengaruh yang positif terhadap sikap, kepuasan, dan pelaksanaan kerja.
Suatu contoh, penemuan Greene
menyatakan bahwa ketika para bawahan tidak melaksanakan pekerjaan secara baik
maka pemimpin cenderung menekankan pada struktur pengambilan inisiatif
(perilaku tugas). Tetapi ketika sebaliknya maka pemimpin menaikkan penekanannya
pada pemberian perhatian (perilaku tata hubungan).
Beberapa penemuan menunjukan bahwa
para bawahan dapat mempengaruhi pemimpin dengan perilakunya, sebanyak pemimpin
beserta perilakunya mempengaruhi para bawahannya.
3.
Teori Situasional dan
Model Kontijensi
Tahun 1967 Fred
Fiedler mengusulkan suatu model berdasarkan situasi untuk efektivitas
kepemimpinan. Pengukuran ini diciptakan dengan memberikan suatu skor yang dapat
menunjukan dugaan Kesamaan di antara Keberlawanan (Assumed Similarity between
Opposites – ASO) dan Teman Kerja yang Paling Sedikit Disukai (Least Preferred
Coworker – LPC). ASO memperhitungkan derajat kesamaan diantara
persepsi-persepsi pemimpin mengenai kesenangan yang paling banyak dan
kesenangan yang paling sedikit tentang kawan kerja, hal ini dapat diterangkan
sebagai berikut:
a. Hubungan
Kemanusiaan atau Gaya yang Lunak (lenient)
Pemimpin tidak melihat perbedaan
besar antara teman kerja yang paling banyak disukai dan paling sedikit disukai
(ASO) atau yang memberikan gambaran relatif menyenangkan kepada teman kerja
yang paling sedikit disenangi (LPC).
b. Gaya
yang Berorientasi Tugas atau Hand Nosed
Pemimpin melihat suatu perbedaan
besar antara teman kerja yang paling banyak dan paling sedikit disenangi (ASO)
dan memberikan suatu gambaran yang paling tidak menyenangkan pada teman kerja
yang paling sedikit disukai (LPC).
Akan
tetapi pada banyak kenyataan, gaya kepemimpinan yang ditentukan melalui sekor
ASO dan LPC tidak memiliki hubungan dengan pelaksanaan kerja kelompok. Oleh
karena itu Fiedler menyempurnakannya lewat Model Kepemimpinan Kontijensi.
Model
Kepemimpinan Kontijensi
Model
ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang
menyenangkan. Situasi yang menyenangkan tersebut diterangkan melalui
dimensi-dimensi berikut ini:
a. Hubungan
pemimpin-anggota
b. Derajat
dari struktur tugas
c. Posisi
kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal
Dengan kata lain, suatu situasi
dikatakan menyenangkan jika:
a. Pemimpin
diterima oleh para pengikutnya (derajat dimensi 1 tinggi)
b. Tugas-tugas
dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas tersebut ditentukan dengan
jelas (derajat dimensi kedua tinggi).
c. Penggunaan
otoritas dan kekuasaan secara formal diterapkan pada posisi pemimpin (derajat
dimensi ketiga tinggi)
Dalam situasi yang
sangat menyenangkan dan sangat tidak menyenangkan, maka gaya kepemimpinan akan
berorientasi pada tugas atau hard nosed adalah sangat efektif.
Dalam situasi
ditengah-tengah atau moderat antara menyenangkan dan tidak menyenangkan, maka
gaya kepemimpinan yang menekankan pada hubungan kemanusiaan atau yang lunak
(lenient) adalah sangat efektif.
4.
Teori Jalan Kecil –
Tujuan (Path – Goal Theory)
Teori
Path Goal berusaha untuk menjelaskan pengaruh perilaku pemimpin terhadap
motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan pekerjaan bawahannya. Teori Path-Goal versi
House memasukan empat gaya utama kepemimpinan, sebagai berikut:
a. Kepemimpinan
Direktif
Bawahan tahu apa yang diharapkan
dari dirinya dan adanya pengarahan khusus dari pemimpin. Dalam model ini tidak
ada partisipasi dari bawahan.
b. Kepemimpinan
yang Mendukung (Supportive Leadership)
Adanya kesediaan pemimpin untuk
menjelaskan sendiri, bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian
kemanusiaan yang murni terhadap bawahannya.
c. Kepemimpinan
Partisipatif
Pemimpin berusaha meminta dan
mempergunakan saran-saran dari para bwahannya. Namun pengambilan keputusan
masih tetap berada padanya.
d. Kepemimpinan
yang Berorientasi pada Prestasi
Pemimpin menetapkan serangkaian tujuan
yang menantang para bawahan untuk berprestasi. Pemimpin memberikan keyakinan
pada mereka bahwa mereka mampu melaksanakan tugas dan mencapai tujuan secara
baik.
Dengan kata lain, lewat cara-cara yang diuraikan
diatas, pemimpin berusaha membuat jalan kecil (path) untuk mencapai
tujuan-tujuan (goal) para bawahannya sebaik mungkin.
Pendekatan
Social Learning dalam Kepemimpinan
Social
Learning merupakan suatu teori yang dapat memberikan suatu model yang menjamin
kelangsungan, interaksi timbal balik antara pemimpin, lingkungan dan
perilakunya sendiri.
Aplikasi
dari kepemimpinan ini adalah bawahan secara aktif ikut terlibat dalam proses
kegiatan organisasi, dan bersama-sama dengan pimpinan memuaskan perilaku
sendiri dan lainnya, serta memperhitungkan lingkungan. Contohnya adalah:
-
Pemimpin menjadi lebih
mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi perilakunya
-
Pemimpin dan bawahan
secara bersama-sama menentukan serangkaian perilaku kontijen yang
berkepribadian yang dapat mengatur perilaku bawahannya
-
Pemimpin bersama dengan
bawahan berusaha menemukan cara-cara untuk mengatur perilaku individu guna
menghasilkan hasil yang produktif dan menguatkan organisasi.
Pendekatan
Social Learning memberikan kesempatan pada pemimpin dan bawahan untuk
memusyawarahkan semua perkara yang timbul. Keduanya memiliki hubungan interaksi
yang hidup dan mempunyai kesadaran untuk menemukan bagaimana cara
menyempurnakan perilaku masing-masing dengan memberikan penghargaan-penghargaan
yang diinginkan.
Gaya Kepemimpinan
1.
Gaya Kepemimpinan
Kontinum
Gaya
ini sebetulnya termasuk gaya klasik , Ada dua bidang pengaruh yang ekstrem.
Pertama, bidang pengaruh pimpinan dan kedua bidang pengaruh kebebasan bawahan.
Pada bidang pertama pemimpin menggunakan otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya
, sedangkan pada bidang kedua pemimpin menunjukkan gaya yang demokratis .
Ada
7 model keputusan pemimpin Antara lain :
A.
Pemimpin membuat
keputusan dan kemudian mengumumkan kepada bawahannya ( Otoritas atasan )
B.
Pemimpin menjual
keputusan. (dalam hal ini pemimpin terlihat banyak menggunakan otoritas yang
ada pada nya )
C.
Pemimpin memberikan
pemikiran-pemikiran atau ide-ide , dan mengundang pertanyaan-pertanyaan . dalam
model ini pemimpin sudah menunjukkan kemajuan , dibatasinya penggunaan
otoritasnya dan diberikan kesempatan bawahan untuk mengajukan
pertanyaan-pertanyaan
D.
Pemimpin memberikan
keputusan bersifat sementara yang kemungkinan dapat diubah ( Bawahan sudah
mulai banyak terlibat dalam rangka pembuatan keputusan )
E.
Pemimpin memberikan
persoalan , meminta saran-saran , dan membuat keputusan ( Model ini sudah jelas
otoritas pimpinan dipergunakan sedikit mungkin )
F.
Pemimpin merumuskan
batas-batasnya , dan meminta kelompok bawahan untuk membuat keputusan (
Partisipasi Bawahan kali ini lebih besar dibandingkan 5 model di atas)
G. Pemimpin
mengizinkan bawahan melakukan fungsi-fungsinya dalam batas-batas yang telah
dirumuskan oleh pimpinan ( model ini terletak pada titik ekstrem penggunaan
otoritas pada nomor satu di atas ).
2.
Gaya Kepemimpinan
Managerial Grid
Sesungguhnya, gaya managerial grid
lebih menekankan kepada pendekatan dua aspek yaitu aspek produksi di satu pihak,
dan orang-orang di pihak lain. Blake dan Mouton menghendaki bagaimana perhatian
pemimpin terhadap produksi dan bawahannya(followers).
Dalam managerial grid, ada empat
gaya yang ekstrim dan ada satu gaya yang berada di tengah-tengah gaya ekstrim
tersebut.
·
Grid
1 (1.1) manajer sedikit sekali memikirkan produksi yang harus dicapai.
sedangkan juga sedikit perhatian terhadap orang-orang (followers) di dalam
organisasinya. Dalam grid ini manajer hanya berfungsi sebagai perantara menyampaikan
informasi dari atasan kepada bawahannya.
·
Grid
2 (9.9) manajer mempunyai perhatian yang tinggi terhadap produksi yang akan
dicapai juga terhadap orang-orang yang bekerja dengannya. Manajer seperti ini
dapat dikatakan sebagai “manajer tim” yang riel (The real team manajer) karena
ia mampu menyatukan antara kebutuhan-kebutuhan produksi dan kebutuhan
orang-orang secara individu.
·
Grid
3 (1.9) manajer memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap orang-orang
dalam organisasi, tetapi perhatian terhadap produksi adalah rendah. Manajer
seperti ini disebut sebagai “pemimpin club”. Gaya seperti ini lebih
mengutamakan bagaimana menyenangkan hati bawahannya agar bawahannya dapat
bekerja rileks, santai, bersahabat, tetapi tidak ada seorangpun yang berusaha
untuk mencapai produktlvitas.
·
Grid
4 (9.1) adalah manajer yang menggunakan gaya kepemimpinan yang otokratis
(autrocratic task managers), karena manejer seperti ini lebih menekankan
produksi yang harus dicapai organisasinya, baik melalui efisiensi atau
efektivitas pelaksanaan kerja, tetapi tidak mempunyai atau sedikit mempuyai
perhatian terhadap bawahan.
Pemimpin yang baik adalah lebih memperhatikan terhadap produksi yang akan dicapai maupun terhadap orang-orang. Grid seperti ini berusaha menyeimbangkan produksi yang akan dicapai dengan perhatian terhadap orang-orang, dalam arti tidak terlalu menyolok. Manajer seperti ini tidak terlalu menciptakan target produksi yang akan dicapai, tetapi juga tidak mempunyai perhatian yang tidak terlalu menyolok kepada orang-orang
Pemimpin yang baik adalah lebih memperhatikan terhadap produksi yang akan dicapai maupun terhadap orang-orang. Grid seperti ini berusaha menyeimbangkan produksi yang akan dicapai dengan perhatian terhadap orang-orang, dalam arti tidak terlalu menyolok. Manajer seperti ini tidak terlalu menciptakan target produksi yang akan dicapai, tetapi juga tidak mempunyai perhatian yang tidak terlalu menyolok kepada orang-orang
Grid
5 (5.5) Grid ini adalah satu gaya berada pada nilai tengah-tengah . Dalam hal
ini manajer mempunyai pemikiran yang medium baik pada produksi maupun pada
orang-orang.
- Tiga dimensi dari Reddin
William
J Reddin melihat gaya kepemimpinan pada dua hal mendasar yakni hubungan
pemimpin dengan tugas dan hubungan kerja . Reddin melukiskan empat persegi
empat dalam kotak di tengah merupakan gaya dasar dari kepemimpinan seorang
manajer . dari gaya di kotak tengah ini seterusnya bisa di Tarik ke atas dan ke
bawah , menjadi gaya yang efektif dan tidak efektif.
Gaya
yang efektif
Ada
empat gaya dalam kotak yang efektif ini Antara lain :
A.
Eksekutif Gaya ini
memberikan perhatian pada tugas tugas pekerjaan dan hubungan kerja , manajer
yang mempergunakan gaya ini disebut sebagai motivator yang baik . menetapkan
standar kerja yang tinggi berkehendak mengenal perbedaan di Antara individu ,
dan berkeinginan mempergunakan kerja tim dalam manajemen
B.
Pecinta Pengembangan (
Developer ) , Gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap hubungan kerja
dan perhatian yang minimum terhadap tugas tugas pekerjaan , Seorang manajer
yang mempergunakan gaya ini mempunyai kepercayaan yang implisit terhadap orang
orang yang bekerja dalam
organisasinya dan sangat memperhatikan terhadap pengembangan mereka sebagai
individu
C.
Otokratis yang baik
hati ( Benevolent autocrat ) Gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap
tugas dan perhatian yang minimum pada hubungan kerja , seorang manajer
mengetahui secara tepat apa yang ia inginkan dan bagaimana memperoleh yang dia
inginkan tanpa menyebabkan ketidakseganan di pihak lain
D.
Birokrat Gaya ini
memberikan perhatian yang minimum terhadap tugas dan hubungan kerja . Seorang
manajer yang memppergunakan gaya ini sangat tertarik pada peraturan dan
menginginkan memeliharanya , serta melakukan control situasi secara teliti
Gaya
yang tidak efektif
Ada
4 gaya yang tidak efektif yaitu Antara lain :
A.
Pecinta Kompromi (
Compromiser ) Gaya ini memberikan perhatian besar pada tugas dan hubungan kerja
dalam suatu situasi yang menekankan pada kompromi , Manajer yang pembuat
keputusan yang jelek banyak tekanan yang mempengaruhinya
B.
Missionari Gaya ini
memberikan penekanan yang ksimum pada orang orang dan hubungan kerja , tetapi
memberikan perhatian yang minimum terhadap tugas dengan perilakuyang tidak
sesuai , Manajer hanya menilai keharmonisan sebagai suatu tujuan dalam dirinya
sendiri
C.
Otokrat Gaya ini
memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan
kerja dengan suatu perilaku tidak sesuai , Manajer seperti ini tidak mempunyai
kepercayaan pada orang lain , tidak menyenangkan dan hanya tertarik pada jenis
pekerjaan yang segera selesai
D.
Lari dari Tugas (
deserter ) Gaya ini sama sekali tidak memberikan perhatian baik pada tugas
maupun pada hubungan kerja . dalam situasi tertuntu gaya ini tidak begitu
terpuji ( pasif dan tidak mau ikut campur tangan secara aktif dan positif .
- Empat system Manajemen dari Likert
Rensis
Likert mengembangkan 4 sistem manajemennya berdaasar suatu proses penelitian
bertahun-tahun , menurut likert dapat berhasil jika gaya Participative management
. Gaya ini menetapkan bahwa keberhasilan pemimpinan adalah jika berorientasi pada
bawahan dan mendasarkan pada komunikasi. Selain itu semua pihak dalam
organisasi – bawahan maupun pemimpin – menerapkan hubungan yang mendukung (
supportive relationship )
Sistem
1 , Exploitive-authoritative , otokratis mempunyai sedikit kepercayaan memberi
ketakutan dan hukuman hukuman , dengan diselingi pemberian penghargaan ,
memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah , dan hanya membatasi proses
pengambilan keputusan di tingkat atas saja
Sistem
2 , Otokratis yang baik hati ( Benevolent authoritative ) mempunyai kepercayaan
yang berselubung , percaya pada bawahan , memotivasi dengan hadiah– hadiah dan
ketakutan berikut hukuman hukuman , mendengarkan pendapat– pendapat dan ide
dari bawahan serta ada nya delegasi wewenang dalam proses keputusan .
Sistem
3 , Manajer konsulatif , mempunyai sedikit kepercayaan , dan melakukan motivasi
dengan penghargaan dan hukuman yang kebetulan , menetapkan dua pola hubungan
komunikasi yakni ke atas dank e bawah .
Sistem
4 , Partisipative group mengandalkan untuk mendapatkan ide – ide dan pendapat
pendapat lainnya dari bawahan dan mempunyai niatan untuk mempergunakan pendapat
bawahan secara konstruktif mendorong bawahan untuk ikut bertanggung jawab
membuat keputusan , dan juga melaksanakan keputusan tersebut dengan tanggung
jawab yang besar .
Kepemimpinan Situasional
Kepemimpinan
situasional menurut Hersey dan Blanchard :
1.
Jumlah petunjuk dan
pengarahan yang diberikan oleh pimpinan
2.
Jumlah dukungan
sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan
3.
Tingkat kesiapan atau
kematangan oara pengikut yang ditunjukkan dalam melaksanakan tugas khusus,
fungsi, atau tujuan tertentu.
Konsepsi ini dikembangkan untuk membantu
orang menjalankan kepemimpinannya tanpa memperhatikan peranannya, selain itu
konsepsi ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya
kepemimpinan yang efektif dan tingkat kematangan para pengikutnya.
Penekanannya hanyalah pada perilaku
pemimpin dan bawahannya saja.
Gaya Dasar Kepemimpinan
2 hal yang biasa pemimpin lakukan
terhadap bawahan atau pengikutnya, yaitu:
1.
Perilaku mengarahkan :
sejauh mana seorang pemimpin melibatkan dalam komunikasi satu arah. Bentuk
pengarahannya yaitu menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan oleh pengikut,
memberitahukan pengikut apa yang seharusnya bisa dikerjakan, dimana melakukan
hal tersebut, bagaimana melakukannya, dan melakukan pengawasan secara ketat
kepada pengikutnya.
2.
Perilaku mendukung :
sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah,
misalnya : mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi,
dan melibatkan para pengikut dalam pengambilan keputusan
Dari dua
unsur tersebut gaya kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu
otokrasi (directing), pembinaan (coaching), demokrasi (supporting), dan kendali
bebas (delegating).
·
Gaya kepemimpinan otokrasi, pemimpin mengendalikan semua
aspek kegiatan, memberitahukan sasaran apa saja yang ingin dicapai dan cara untuk
mencapai sasaran tersebut, baik itu sasaran utama maupun sasaran minornya.
Pemimpin juga berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya dan
pemberi jalan keluar bila anggota mengalami masalah. Dengan kata lain, anggota
tidak perlu pusing memikirkan apappun. Anggota cukup melaksanakan apa yang
diputuskan pemimpin.
·
Gaya kepemimpinan pembinaan (mirip dengan otokrasi). Pada
gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin masih menunjukkan sasaran yang ingin
dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut. Namun, pada kepemimpinan ini
anggota diajak untuk ikut memecahkan masalah yang sedang dihadapi.
·
Pada kepemimpinan demokrasi, anggota memiliki peranan
yang lebih besar. Pada kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan
sasaran yang ingin dicapai saja, tentang cara untuk mencapai sasaran tersebut,
anggota yang menentukan. Selain itu, anggota juga diberi keleluasaan untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
·
Gaya kepemimpinan kendali bebas merupakan model
kepemimpinan yang paling dinamis. Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin
hanya menunjukkan sasaran utama yang ingin dicapai saja. Tiap divisi atau seksi
diberi kepercayaan penuh untuk menentukan sasaran minor, cara untuk mencapai
sasaran, dan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri-sendiri.
Dengan demikian, pemimpin hanya berperan sebagai pemantau saja.
Lalu, gaya kepemimpinan yang mana yang
sebaiknya dijalankan? Jawaban dari pertanyaan ini adalah tergantung pada
kondisi anggota itu sendiri. Pada dasarnya tiap gaya kepemimpinan hanya cocok
untuk kondisi tertentu saja. Dengan mengetahui kondisi nyata anggota, seorang
pemimpin dapat memilih model kepemimpinan yang tepat. Tidak menutup kemungkinan
seorang pemimpin menerapkan gaya yang berbeda untuk divisi atau seksi yang
berbeda.
·
Kepemimpinan otokrasi
cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi rendah tapi komitmennya tinggi.
·
Kepemimpinan pembinaan
cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi sedang dan komitmen rendah.
·
Kepemimpinan demokrasi
cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi tinggi dengan komitmen yang
bervariasi.
·
Kepemimpinan kendali
bebas cocok untuk angggota yang memiliki kompetensi dan komitmen tinggi.
Perilaku Gaya
Dasar Kepemimpinan dalam pengambilan keputusan
INSTRUKSI :
(Perilaku pemimpin tinggi pengarahan dan rendah dukungan)
komunikasi satu arah, pemimpin memberikan
batasan terhadap peranan pengikutnya dan memberitahu tentang apa, bagaimana,
bilamana, dan dimana melaksanakan berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah,
pembuatan keputusan, keputusan diumumkan, pelaksanaannya dilakukan dan diawasi
secara ketat oleh pemimpin
KONSULTASI :
(Perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan tinggi dukungan)
pemimpin masih
banyak memberikan pengarahan dan masih membuat keputusan yang sama, tetapi hal
ini diikuti dengan meningkatkan banyaknya komunikasi dua arah dan perilaku
mendukung dengan berusaha mendengar perasaan pengikut tentang keputusan yang
dibuat, ide-ide, dan saran-saran mereka. Pengendalian dan pengambilan keputusan
tetap kepada pemimpin.
PARTISIPASI :
(Perilaku pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan)
Pemimpin dan
pengikut saling tukar-menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan
keputusan. Komunikasi dua arah ditingkatkan. Tanggung jawab pemecahan masalah
pembuatan keputusan sebagian besar berada pada pihak pengikut
DELEGASI :
(Perilaku pemimpin yang rendah dukungan dan pengarahan)
Pemimpin
mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahannya sehingga tercapai
kesepakatan mengenai definisi masalah, proses pembuatan keputusan didelegasikan
secara keseluruhan kepada bawahan, bawahan memiliki kontrol untuk memutuskan
bagaimana cara pelaksanaan tugas, pemimpin meyakini bahwa bawahan memiliki
kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku
mereka sendiri.
Sumber dan
bentuk Kekuasaan
Kekuasaan dapat
diperoleh dari jabatan organisasi, pengaruh pribadi, atau keduanya.
Seseorang yang
mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain untuk melakukan
kerja karena jabatan organisasi yang dijabatannya, maka orang tersebut
mempunyai kekuasaan jabatan.
Adapun seseorang
yang memperoleh kekuasaan dari para pengikutnya dikatakan mempunyai kekuasaan pribadi.
Peabody membagi
atas 4 kategori kekuasaan :
·
Kekuasaan
legitimasi (undang-undang, peraturan dan kebijakan)
·
Kekuasaan
jabatan,
·
Kekuasaan
kompetensi (keahlian teknis dan profesional)
·
Kekuasaan
pribadi
French dan Raven membagi atas 5 sumber
kekuasaan yang kemudian dikembangkan lagi menjadi 7 :
·
Kekuasaan
paksaan (coercive power)
Berdasarkan
rasa takut. Sumber kekuasaan diperoleh dari rasa takut.
Pemimpin
memilikikemampuan untuk menegakkan hukuman, dampratan, atau pemecatan
·
Kekuasaan
keahlian (expert power)
Bersumber
dari keahlian kecakapan, atau pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin
yang diwujudkan lewat rasa hormat, dan pengaruhnya terhadap orang lain. Seorang
pemimpin yang tinggi kekuasaan keahliannya ini, kelihatannya mempunyai keahlian
untuk memberikan fasilitas terhadap perilaku kerja orang lain.
·
Kekuatan
legitimasi (legitimate power)
Bersumber
pada jabatan yang dipegang oleh pemimpin. Semakin tinggi posisi pemimpin, maka
semakin besar pula kekuasaan legitimasinya. Pemimpin yang tinggi kekuasaan
legitimasinya mempunyai kecenderungan untuk mempengaruhi orang lain, karena
pemimpin tersebut merasakan bahwa ia
mempunyai hak atau wewenang yang diperoleh dari jabatan dalam organisasinya.
·
Kekuasaan
referensi (reference power)
Bersumber
pada sifat-sifat pribadi dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang tinggi
kekuasaan referensinya ini pada umumnya disenangi dan dikagumi oleh orang lain
karena kepribadiannya. Kekuatan pimpinan ini sangat tergantung pada
kepribadiannya yang mampu menarik para bawahan atau pengikutnya. Kesenangan
daya tarik, dan kekaguman para bawahan dapat memberikan identifikasi terhadap
pengaruh pimpinannya.
·
Kekuasaan
penghargaan (reward power)
Bersumber
atas kemampuan untuk menyediakan penghargaan atau hadiah bagi orang lain,
seperti misalnya gaji, promosi, atau penghargaan jasa.
·
Kekuasaan
informasi (information power) (Raven bekerjasama
dengan Kruglanski menambah kekuasaan yang keenam)
Bersumber
karena adanya ekses informasi yang dimiliki oleh pemimpin yang dinilai sangat
berharga oleh pengikutnya. Sebagai seorang pemimpin, maka semua informasi
mengenai organisasi ada padanya, demikian pula informasi yang datang dari luar
organisasi.
·
Kekuasaan
hubungan (connection power) (pada tahun 1979,
Hersey dan Goldsmith mengusulkan kekuasaan ketujuh)
Bersumber
pada hubungan yang dijalin oleh pimpinan dengan orang-orang penting dan
berpengaruh baik dari luar atau di dalam organisasi. Seorang pemimpin yang
tinggi kekuasaan hubungannya ini cenderung meminta saran-saran dari orang
lain,karena mereka membantu mendapatkan hal-hal yang menyenangkan dan
menghilangkan hal-hal yang tidak menyenangkan dari kekuasaan hubungan ini.
Aplikasi sumber-sumber kekuasaan pada
kepemimpinan situasional
Kepemimpinan
situasional dapat memberikan perlengkapan untuk memahami dampak potensial dari
setiap sumber kekuasaan tersebut. Sebagai seorang pemimpin yang efektif selain
menerapkan berbagai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kematangan para
pengikut, ia pun seharusnya juga menerapkan berbagai bentuk dan sumber
kekuasaan yang sesuai pada pengikut yang sama.
Hubungan aplikasi dari sumber kekuasaan,
gaya kepemimpinan dan tingkat kematangan pengikut :
·
Kekuasaan paksaan
Pengikut
yang rendah kematangannya biasanya memerlukan perilaku pengarahan yang kuatagar
menjadi produktif. Gaya kepemimpinan yang cocok kepada pengikut-pengikut
seperti ini ialah sering diberikan instruksi.
·
Kekuasaan hubungan
Ketika
seorang pengikut mulai beranjak dari tingkat kematangan, maka perilaku
mengarahkan masih diperlukan dan menaikkan perilaku mendukungpun juga dirasakan
amat penting. Gaya kepemimpinan Instruksi dan Konsultasi sesuai untuk tingkat
kematangan ini dan hasilnya akan lebih efektif.
·
Kekuasaan penghargaan
Pengikut
berada pada tingkat kematangan yang berkembang dari rendah ke sedang sering
membutuhkan sejumlah perilaku dukungan dan pengarahan yang besar. Gaya
konsultasi sering memperkuat kekuasaan
penghargaan ini.
·
Kekuasaan legitimasi
Gaya
kepemimpinan yang sesuai secara efektif pada kedua tingkat kematangan sedang
ini merupakan gaya konsultasi dan partisipasi.
·
Kekuasaan refrensi
Pengikut
yang berada pada tingkat kematangan dari sedang ke tinggi hanya membutuhkan
pengarahan yang sedikit tetapi masih memerlukan tingkat tinggi untuk
berkomunikasi dan dukungan dari pemimpin. Gaya yang efektif digunakan adalah
gaya partisipasi
·
Kekuasaan informasi
Gaya
kepemimpinan yang dapat memotivasikan pengikut secara efektif pada rata-rata
diatas tingkat-tingkat kematangan ialah partisipasi dan delegasi. Mereka
memandang bahwa pemimpin sebagai orang yang mempunyai informasi untuk
memelihara dan menyempurnakan pelakssanaan kerja.
·
Kekuasaan keahlian
Pengikut
yang sudah berkembang pada suatu tingkat kematangan yang tinggi sering hanya
memerlukan sedikit pengarahan dan dukungan. Gaya kepemimpinan yang digunakan
adalah gaya kepemimpinan delegasi dan kekuasaan keahlian dari pemimpin.
Gaya
instruksi adalah : gaya kepemimpinan yang sesuai untuk keadaan
No comments:
Post a Comment