Wednesday, June 11, 2014

Leadership


Leadership and Power

Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah sebagai pelaksanaan otoritas dan pembuatan keputusan, suatu inisiatif untuk bertindak yang menghasilkan suatu pola yang konsistensi dalam rangka mencari jalan pemecahan suatu persoalan bersama.
Perbedaan Management dan Leadership
Manajemen merupakan jenis pemikiran yang khusus dari kepemimpinan di dalam usaha mencapai tujuan organisasi. Dalam artian yang luas, kepemimpinan dapat dipergunakan setiap orang dan tidak hanya terbatas berlaku dalam organisasi. Menurut Miftah Thoha, kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tatakrama birokrasi.
Namun apabila kepemimpinan itu dibatasi oleh tata krama birokrasi atau dikaitkan terjadinya dalam suatu organisasi disebut Manajemen. Dapat saja seorang manajer berperilaku sebagai seorang pemimpin, asal mampu mempengaruhi perilaku orang-orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan perkataan lain, pemimpin belum tentu seorang manajer, tetapi seorang manajer bisa berperilaku sebagai seorang pemimpin.

A.     Penelitian Studi IOWA
Kepemimpinan mulanya dilakukan pada tahun 1930 oleh Ronald Lippitt dan Ralph K. White dibawah arahan Kurt Lewin di Universitas Iowa. Terbentuklah klub hobi anak yang berumur 10 tahun dalam penelitian ini, dimana setiap klub diminta memainkan tiga style kepemimpinan, yakni: otokratis, demokratis, laissez faire. Pemimpin yang otoriter bertindak sangat direktif, selalu memberikan arahan dan tidak memberikan kesempatan untuk berpendapat. Pemimpin yang demokratis mencoba untuk bersikap objektif didalam pemberian kritik atau pujian, dan membentuk kelompok diskusi dalam pembuatan keputusan. Pemimpin semaunya sendiri (laissez faire) memberikan kebebasan yang mutlak pada kelompok. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan dalam variabel-variabel kepuasan dan frustasi-agresi.
Setelah dilakukannya penelitian terhadap tiga gaya kepemimpinan terhadap klub anak, maka dapat disimpulkan bahwa anak-anak lebih menyukai pemimpin yang demokratis dibandingkan pemimpin yang otokratis. Didalam penelitian Iowa tidak mengungkapkan pengaruh langsung dari gaya kepemimpinan tersebut pada produktivitas. Eksperimen yang pokok dirancang hanya untuk mengamati pola prilaku agresif. Yang hasilnya suatu perilaku kelompok-kelompok yang apatis, ketika pemimpin yang otokratis keluar ruangan, maka meletuslah sikap agresifnya. Gaya kepemimpinan laissez faire menghasilkan sejumlah besar perbuatan agresif dari kelompoknya, sedangkan gaya kepemimpinan demokratis berada diantara satu agresif dan empat apatis dalam kelompok yang otokratis.
B.      Penelitian Studi OHIO
Tahun 1945, Biro Penelitian Bisinis dari Universitas Negeri Ohio menemukan penemuan dalam bidang kepemimpinan. Studi Ohio memulai penelitian dengan premis bahwa tidak ada kepuasan atas rumusan atau definisi kepemimpinan yang ada. Dengan asumsi terdahulu bahwa kepemimpinan selalu diartikan sama dengan kepemimpinan yang baik.
Staf peneliti Ohio merumuskan kepemimpinan sebagai suatu perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu grup ke arah pencapaian tujuan tertentu. Dalam hal ini pemimpin memiliki deskripsi perilaku atas dua dimensi, yaitu struktur pembuatan inisiatif dan perhatian. Struktur pembuatan inisiatif menunjukkan perilaku pemimpin dalam menentukan hubungan kerja antara dirinya dengan yang dipimpin. Perilaku perhatian menggambarkan perilaku pemimpin yang menunjukkan kesetiakawanan, bersahabat, saling percaya, dan  kehangatan didalam hubungan antara pemimpin dan anggota staf. Perilaku inilah yang diteliti oleh Universitas Ohio.
      Dimana ditemukan bahwa kedua perilaku tersebut sangat berbeda dan terpisah satu sama lain. Nilai yang tinggi dalam pada suatu dimensi tidaklah mesti diikuti rendahnya nilai dari dimensi yang lain. Perilaku pemimpin dapat pula merupakan kombinasi dari dua dimensi tersebut.
C.      Penemuan Klasik Studi Michigan
Pusat Riset Survei Unversitas Michigan dan kantor riset angkatan laut melakukan sebuah penelitian dengan tujuan untuk menentukan prinsip-prinsip produktivitas kelompok dan kepuasan anggota kelompok yang diperoleh dari partisipasi mereka. Maka pada tahun 1947, dilakukan penelitian di Newark, New Jersey, pada perusahaan asuransi Prudential.
Pada penelitian di Newark, New Jersey tersebut pengukuran yang sistematis dibuat berdasarkan persepsi dan sikap para pengawas dan pekerja. Variabel ini dihubungkan dengan pengukuran-pengukuran pelaksanaan pekerjaan. Rancangan riset juga memasukkan suatu derajat kontrol yang tinggi atas variabel-variabel nonpsikologis yang mungkin mempengaruhi semanagat kerja dan produktivitas. Dengan demikian, faktor-faktor tertentu, misalnya bentuk pekerjaan, kondisi pekerjaan, dan metode kerja terkendalikan semuanya.
Dua belas pasang produktifitas tinggi rendah diseleksi untuk diuji. Setiap pasang mewakili seksi produksi tinggi dan seksi produksi rendah, dengan variabel lainnya. Interview bebas dilaksanakan dengan mewawancarai 24 pengawas seksi dan 419 pekerja tata usaha. Hasilnya menunjukkan bahwa pengawas pada seksi produksi tinggi lebih memberikan pengawasan terbuka pada bawahannya dibandingkan pengawasan yang ketas dan berorientasi pada pekerja daripada berorientasi pada produksi, sedangkan seksi produksi rendah mereka lebih menyukai pengawasan yang ketat dan berorientasi pada produksi.

Teori-Teori Kepemimpinan
1.      Teori Sifat (Trait Theory)
Pada zaman Yunani Kuno dan Roma, orang-orang percaya bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukannya dibuat (The Great Man). Contohnya adalah Napoleon yang dipercaya memiliki kemampuan alamiah sebagai pemimpin.
            Setelah mendapat pengaruh dari aliran psikologi, kenyataanya sifat-sifat kepemimpinan itu tidak seluruhnya dilahirkan, tetapi dapat juga dicapai lewat suatu pendidikan dan pengalaman. Di tahun 1930-1950 dilakukanlah penelitian yang berpusat pada sifat-sifat fisik, mental, dan kepribadian.  Dari beberapa hal sifat kecerdasan menjadi sifat yang selalu nampak dengan derajat konsentrasi yang tinggi. Kesimpulan dari penelitian-penelitian tersebut adalah para pemimpin hendaknya harus lebih besar dan cerdas dibandingkan dengan yang dipimpin.
            Namun dalam organisasi ternyata keberhasilan seorang manager tidak memiliki korelasi dengan sifat-sifat pemimpin. Oleh sebab itu Keith Davis merumuskan empat sifat umum yang nampaknya mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi.
a.       Kecerdasan
Pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin. Namun kecerdasan yang lebih tinggi ini tidak terpaut jauh bedanya dengan para pengikutnya.
b.      Kedewasaan dan keluasan hubungan
Pemimpin cenderung lebih matang dan mempunya emosi yang stabil terhadap aktivitas sosial, serta mempunyai keinginan dihargai dan menghargai.
c.       Motivasi diri dan dorongan berprestasi
Pemimpin memiliki dorongan motivasi untuk berprestasi, mendapatkan penghargaan yang intrinsik dibandingkan yang ekstrinsik.
d.      Sikap-sikap hubungan kemanusiaan
Pemimpin yang berhasil akan mau mengakui harga diri dan kehormatan para pengikutnya. Dalam Universitas Ohio hal ini disebut perhatian sedangkan pada penemuan Michigan disebut berorientasi pada karyawan.

2.      Teori Kelompok
            Teori kelompok beranggapan agar kelompok dapat mencapai tujuan-tujuannya maka harus ada suatu pertukaran yang sositif antara pemimpin dengan para pengikutnya. Kepemimpinan ditekankan pada adanya suatu proses pertukaran antara pemimpin dan pengikutnya, terutama pada dimensi pemberian perhatian kepada para pengikut.
            Suatu penelitian menunjukan bahwa para pemimpin yang memperhitungkan dan membantu pengikut-pengikutnya mempunyai pengaruh yang positif terhadap sikap, kepuasan, dan pelaksanaan kerja.
            Suatu contoh, penemuan Greene menyatakan bahwa ketika para bawahan tidak melaksanakan pekerjaan secara baik maka pemimpin cenderung menekankan pada struktur pengambilan inisiatif (perilaku tugas). Tetapi ketika sebaliknya maka pemimpin menaikkan penekanannya pada pemberian perhatian (perilaku tata hubungan).
            Beberapa penemuan menunjukan bahwa para bawahan dapat mempengaruhi pemimpin dengan perilakunya, sebanyak pemimpin beserta perilakunya mempengaruhi para bawahannya.

3.      Teori Situasional dan Model Kontijensi
Tahun 1967 Fred Fiedler mengusulkan suatu model berdasarkan situasi untuk efektivitas kepemimpinan. Pengukuran ini diciptakan dengan memberikan suatu skor yang dapat menunjukan dugaan Kesamaan di antara Keberlawanan (Assumed Similarity between Opposites – ASO) dan Teman Kerja yang Paling Sedikit Disukai (Least Preferred Coworker – LPC). ASO memperhitungkan derajat kesamaan diantara persepsi-persepsi pemimpin mengenai kesenangan yang paling banyak dan kesenangan yang paling sedikit tentang kawan kerja, hal ini dapat diterangkan sebagai berikut:
a.       Hubungan Kemanusiaan atau Gaya yang Lunak (lenient)
Pemimpin tidak melihat perbedaan besar antara teman kerja yang paling banyak disukai dan paling sedikit disukai (ASO) atau yang memberikan gambaran relatif menyenangkan kepada teman kerja yang paling sedikit disenangi (LPC).
b.      Gaya yang Berorientasi Tugas atau Hand Nosed
Pemimpin melihat suatu perbedaan besar antara teman kerja yang paling banyak dan paling sedikit disenangi (ASO) dan memberikan suatu gambaran yang paling tidak menyenangkan pada teman kerja yang paling sedikit disukai (LPC).
Akan tetapi pada banyak kenyataan, gaya kepemimpinan yang ditentukan melalui sekor ASO dan LPC tidak memiliki hubungan dengan pelaksanaan kerja kelompok. Oleh karena itu Fiedler menyempurnakannya lewat Model Kepemimpinan Kontijensi.

            Model Kepemimpinan Kontijensi
                        Model ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Situasi yang menyenangkan tersebut diterangkan melalui dimensi-dimensi berikut ini:
a.       Hubungan pemimpin-anggota
b.      Derajat dari struktur tugas
c.       Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal

Dengan kata lain, suatu situasi dikatakan menyenangkan jika:
a.       Pemimpin diterima oleh para pengikutnya (derajat dimensi 1 tinggi)
b.      Tugas-tugas dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas tersebut ditentukan dengan jelas (derajat dimensi kedua tinggi).
c.       Penggunaan otoritas dan kekuasaan secara formal diterapkan pada posisi pemimpin (derajat dimensi ketiga tinggi)
Dalam situasi yang sangat menyenangkan dan sangat tidak menyenangkan, maka gaya kepemimpinan akan berorientasi pada tugas atau hard nosed adalah sangat efektif.
Dalam situasi ditengah-tengah atau moderat antara menyenangkan dan tidak menyenangkan, maka gaya kepemimpinan yang menekankan pada hubungan kemanusiaan atau yang lunak (lenient) adalah sangat efektif.

4.      Teori Jalan Kecil – Tujuan (Path – Goal Theory)
Teori Path Goal berusaha untuk menjelaskan pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan pekerjaan bawahannya. Teori Path-Goal versi House memasukan empat gaya utama kepemimpinan, sebagai berikut:
a.       Kepemimpinan Direktif
Bawahan tahu apa yang diharapkan dari dirinya dan adanya pengarahan khusus dari pemimpin. Dalam model ini tidak ada partisipasi dari bawahan.
b.      Kepemimpinan yang Mendukung (Supportive Leadership)
Adanya kesediaan pemimpin untuk menjelaskan sendiri, bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian kemanusiaan yang murni terhadap bawahannya.
c.       Kepemimpinan Partisipatif
Pemimpin berusaha meminta dan mempergunakan saran-saran dari para bwahannya. Namun pengambilan keputusan masih tetap berada padanya.
d.      Kepemimpinan yang Berorientasi pada Prestasi
Pemimpin menetapkan serangkaian tujuan yang menantang para bawahan untuk berprestasi. Pemimpin memberikan keyakinan pada mereka bahwa mereka mampu melaksanakan tugas dan mencapai tujuan secara baik.
Dengan kata lain, lewat cara-cara yang diuraikan diatas, pemimpin berusaha membuat jalan kecil (path) untuk mencapai tujuan-tujuan (goal) para bawahannya sebaik mungkin.
Pendekatan Social Learning dalam Kepemimpinan
                        Social Learning merupakan suatu teori yang dapat memberikan suatu model yang menjamin kelangsungan, interaksi timbal balik antara pemimpin, lingkungan dan perilakunya sendiri.
                        Aplikasi dari kepemimpinan ini adalah bawahan secara aktif ikut terlibat dalam proses kegiatan organisasi, dan bersama-sama dengan pimpinan memuaskan perilaku sendiri dan lainnya, serta memperhitungkan lingkungan. Contohnya adalah:
-          Pemimpin menjadi lebih mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi perilakunya
-          Pemimpin dan bawahan secara bersama-sama menentukan serangkaian perilaku kontijen yang berkepribadian yang dapat mengatur perilaku bawahannya
-          Pemimpin bersama dengan bawahan berusaha menemukan cara-cara untuk mengatur perilaku individu guna menghasilkan hasil yang produktif dan menguatkan organisasi.
Pendekatan Social Learning memberikan kesempatan pada pemimpin dan bawahan untuk memusyawarahkan semua perkara yang timbul. Keduanya memiliki hubungan interaksi yang hidup dan mempunyai kesadaran untuk menemukan bagaimana cara menyempurnakan perilaku masing-masing dengan memberikan penghargaan-penghargaan yang diinginkan.

Gaya Kepemimpinan
1.      Gaya Kepemimpinan Kontinum
Gaya ini sebetulnya termasuk gaya klasik , Ada dua bidang pengaruh yang ekstrem. Pertama, bidang pengaruh pimpinan dan kedua bidang pengaruh kebebasan bawahan. Pada bidang pertama pemimpin menggunakan otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya , sedangkan pada bidang kedua pemimpin menunjukkan gaya yang demokratis .
Ada 7 model keputusan pemimpin Antara lain :
A.    Pemimpin membuat keputusan dan kemudian mengumumkan kepada bawahannya ( Otoritas atasan )
B.     Pemimpin menjual keputusan. (dalam hal ini pemimpin terlihat banyak menggunakan otoritas yang ada pada nya )
C.     Pemimpin memberikan pemikiran-pemikiran atau ide-ide , dan mengundang pertanyaan-pertanyaan . dalam model ini pemimpin sudah menunjukkan kemajuan , dibatasinya penggunaan otoritasnya dan diberikan kesempatan bawahan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan
D.    Pemimpin memberikan keputusan bersifat sementara yang kemungkinan dapat diubah ( Bawahan sudah mulai banyak terlibat dalam rangka pembuatan keputusan )
E.     Pemimpin memberikan persoalan , meminta saran-saran , dan membuat keputusan ( Model ini sudah jelas otoritas pimpinan dipergunakan sedikit mungkin )
F.      Pemimpin merumuskan batas-batasnya , dan meminta kelompok bawahan untuk membuat keputusan ( Partisipasi Bawahan kali ini lebih besar dibandingkan 5 model di atas)
G.    Pemimpin mengizinkan bawahan melakukan fungsi-fungsinya dalam batas-batas yang telah dirumuskan oleh pimpinan ( model ini terletak pada titik ekstrem penggunaan otoritas pada nomor satu di atas ).

2.      Gaya Kepemimpinan Managerial Grid
Sesungguhnya, gaya managerial grid lebih menekankan kepada pendekatan dua aspek yaitu aspek produksi di satu pihak, dan orang-orang di pihak lain. Blake dan Mouton menghendaki bagaimana perhatian pemimpin terhadap produksi dan bawahannya(followers).

Dalam managerial grid, ada empat gaya yang ekstrim dan ada satu gaya yang berada di tengah-tengah gaya ekstrim tersebut.
·    
    Grid 1 (1.1) manajer sedikit sekali memikirkan produksi yang harus dicapai. sedangkan juga sedikit perhatian terhadap orang-orang (followers) di dalam organisasinya. Dalam grid ini manajer hanya berfungsi sebagai perantara menyampaikan informasi dari atasan kepada bawahannya.
·   
     Grid 2 (9.9) manajer mempunyai perhatian yang tinggi terhadap produksi yang akan dicapai juga terhadap orang-orang yang bekerja dengannya. Manajer seperti ini dapat dikatakan sebagai “manajer tim” yang riel (The real team manajer) karena ia mampu menyatukan antara kebutuhan-kebutuhan produksi dan kebutuhan orang-orang secara individu.
·    
    Grid 3 (1.9) manajer memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap orang-orang dalam organisasi, tetapi perhatian terhadap produksi adalah rendah. Manajer seperti ini disebut sebagai “pemimpin club”. Gaya seperti ini lebih mengutamakan bagaimana menyenangkan hati bawahannya agar bawahannya dapat bekerja rileks, santai, bersahabat, tetapi tidak ada seorangpun yang berusaha untuk mencapai produktlvitas.
·   
     Grid 4 (9.1) adalah manajer yang menggunakan gaya kepemimpinan yang otokratis (autrocratic task managers), karena manejer seperti ini lebih menekankan produksi yang harus dicapai organisasinya, baik melalui efisiensi atau efektivitas pelaksanaan kerja, tetapi tidak mempunyai atau sedikit mempuyai perhatian terhadap bawahan.
Pemimpin yang baik adalah lebih memperhatikan terhadap produksi yang akan dicapai maupun terhadap orang-orang. Grid seperti ini berusaha menyeimbangkan produksi yang akan dicapai dengan perhatian terhadap orang-orang, dalam arti tidak terlalu menyolok. Manajer seperti ini tidak terlalu menciptakan target produksi yang akan dicapai, tetapi juga tidak mempunyai perhatian yang tidak terlalu menyolok kepada orang-orang

Grid 5 (5.5) Grid ini adalah satu gaya berada pada nilai tengah-tengah . Dalam hal ini manajer mempunyai pemikiran yang medium baik pada produksi maupun pada orang-orang.

  1. Tiga dimensi dari Reddin
William J Reddin melihat gaya kepemimpinan pada dua hal mendasar yakni hubungan pemimpin dengan tugas dan hubungan kerja . Reddin melukiskan empat persegi empat dalam kotak di tengah merupakan gaya dasar dari kepemimpinan seorang manajer . dari gaya di kotak tengah ini seterusnya bisa di Tarik ke atas dan ke bawah , menjadi gaya yang efektif dan tidak efektif.
Gaya yang efektif
Ada empat gaya dalam kotak yang efektif ini Antara lain :
A.    Eksekutif Gaya ini memberikan perhatian pada tugas tugas pekerjaan dan hubungan kerja , manajer yang mempergunakan gaya ini disebut sebagai motivator yang baik . menetapkan standar kerja yang tinggi berkehendak mengenal perbedaan di Antara individu , dan berkeinginan mempergunakan kerja tim dalam manajemen
B.     Pecinta Pengembangan ( Developer ) , Gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap hubungan kerja dan perhatian yang minimum terhadap tugas tugas pekerjaan , Seorang manajer yang mempergunakan gaya ini mempunyai kepercayaan yang implisit terhadap orang orang yang         bekerja dalam organisasinya dan sangat memperhatikan terhadap pengembangan mereka sebagai individu
C.     Otokratis yang baik hati ( Benevolent autocrat ) Gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap tugas dan perhatian yang minimum pada hubungan kerja , seorang manajer mengetahui secara tepat apa yang ia inginkan dan bagaimana memperoleh yang dia inginkan tanpa menyebabkan ketidakseganan di pihak lain
D.    Birokrat Gaya ini memberikan perhatian yang minimum terhadap tugas dan hubungan kerja . Seorang manajer yang memppergunakan gaya ini sangat tertarik pada peraturan dan menginginkan memeliharanya , serta melakukan control situasi secara teliti
Gaya yang tidak efektif
Ada 4 gaya yang tidak efektif yaitu Antara lain :
A.    Pecinta Kompromi ( Compromiser ) Gaya ini memberikan perhatian besar pada tugas dan hubungan kerja dalam suatu situasi yang menekankan pada kompromi , Manajer yang pembuat keputusan yang jelek banyak tekanan yang mempengaruhinya
B.     Missionari Gaya ini memberikan penekanan yang ksimum pada orang orang dan hubungan kerja , tetapi memberikan perhatian yang minimum terhadap tugas dengan perilakuyang tidak sesuai , Manajer hanya menilai keharmonisan sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri
C.     Otokrat Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja dengan suatu perilaku tidak sesuai , Manajer seperti ini tidak mempunyai kepercayaan pada orang lain , tidak menyenangkan dan hanya tertarik pada jenis pekerjaan yang segera selesai
D.    Lari dari Tugas ( deserter ) Gaya ini sama sekali tidak memberikan perhatian baik pada tugas maupun pada hubungan kerja . dalam situasi tertuntu gaya ini tidak begitu terpuji ( pasif dan tidak mau ikut campur tangan secara aktif dan positif .

  1. Empat system Manajemen dari Likert
Rensis Likert mengembangkan 4 sistem manajemennya berdaasar suatu proses penelitian bertahun-tahun , menurut likert dapat berhasil jika gaya Participative management . Gaya ini menetapkan bahwa keberhasilan pemimpinan adalah jika berorientasi pada bawahan dan mendasarkan pada komunikasi. Selain itu semua pihak dalam organisasi – bawahan maupun pemimpin – menerapkan hubungan yang mendukung ( supportive relationship )
Sistem 1 , Exploitive-authoritative , otokratis mempunyai sedikit kepercayaan memberi ketakutan dan hukuman hukuman , dengan diselingi pemberian penghargaan , memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah , dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja
Sistem 2 , Otokratis yang baik hati ( Benevolent authoritative ) mempunyai kepercayaan yang berselubung , percaya pada bawahan , memotivasi dengan hadiah– hadiah dan ketakutan berikut hukuman hukuman , mendengarkan pendapat– pendapat dan ide dari bawahan serta ada nya delegasi wewenang dalam proses keputusan .
Sistem 3 , Manajer konsulatif , mempunyai sedikit kepercayaan , dan melakukan motivasi dengan penghargaan dan hukuman yang kebetulan , menetapkan dua pola hubungan komunikasi yakni ke atas dank e bawah .
Sistem 4 , Partisipative group mengandalkan untuk mendapatkan ide – ide dan pendapat pendapat lainnya dari bawahan dan mempunyai niatan untuk mempergunakan pendapat bawahan secara konstruktif mendorong bawahan untuk ikut bertanggung jawab membuat keputusan , dan juga melaksanakan keputusan tersebut dengan tanggung jawab yang besar . 

Kepemimpinan Situasional
Kepemimpinan situasional menurut Hersey dan Blanchard :
1.        Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan
2.        Jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan
3.        Tingkat kesiapan atau kematangan oara pengikut yang ditunjukkan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi, atau tujuan tertentu.

Konsepsi ini dikembangkan untuk membantu orang menjalankan kepemimpinannya tanpa memperhatikan peranannya, selain itu konsepsi ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dan tingkat kematangan para pengikutnya.
Penekanannya hanyalah pada perilaku pemimpin dan bawahannya saja.

Gaya Dasar Kepemimpinan

2 hal yang biasa pemimpin lakukan terhadap bawahan atau pengikutnya, yaitu:
1.        Perilaku mengarahkan : sejauh mana seorang pemimpin melibatkan dalam komunikasi satu arah. Bentuk pengarahannya yaitu menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan oleh pengikut, memberitahukan pengikut apa yang seharusnya bisa dikerjakan, dimana melakukan hal tersebut, bagaimana melakukannya, dan melakukan pengawasan secara ketat kepada pengikutnya.
2.        Perilaku mendukung : sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misalnya : mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi, dan melibatkan para pengikut dalam pengambilan keputusan

Dari dua unsur tersebut gaya kepemimpinan dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu otokrasi (directing), pembinaan (coaching), demokrasi (supporting), dan kendali bebas (delegating).
·         Gaya kepemimpinan otokrasi, pemimpin mengendalikan semua aspek kegiatan, memberitahukan sasaran apa saja yang ingin dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut, baik itu sasaran utama maupun sasaran minornya. Pemimpin juga berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya dan pemberi jalan keluar bila anggota mengalami masalah. Dengan kata lain, anggota tidak perlu pusing memikirkan apappun. Anggota cukup melaksanakan apa yang diputuskan pemimpin.
·         Gaya kepemimpinan pembinaan (mirip dengan otokrasi). Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin masih menunjukkan sasaran yang ingin dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut. Namun, pada kepemimpinan ini anggota diajak untuk ikut memecahkan masalah yang sedang dihadapi.
·         Pada kepemimpinan demokrasi, anggota memiliki peranan yang lebih besar. Pada kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran yang ingin dicapai saja, tentang cara untuk mencapai sasaran tersebut, anggota yang menentukan. Selain itu, anggota juga diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
·         Gaya kepemimpinan kendali bebas merupakan model kepemimpinan yang paling dinamis. Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran utama yang ingin dicapai saja. Tiap divisi atau seksi diberi kepercayaan penuh untuk menentukan sasaran minor, cara untuk mencapai sasaran, dan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, pemimpin hanya berperan sebagai pemantau saja.

Lalu, gaya kepemimpinan yang mana yang sebaiknya dijalankan? Jawaban dari pertanyaan ini adalah tergantung pada kondisi anggota itu sendiri. Pada dasarnya tiap gaya kepemimpinan hanya cocok untuk kondisi tertentu saja. Dengan mengetahui kondisi nyata anggota, seorang pemimpin dapat memilih model kepemimpinan yang tepat. Tidak menutup kemungkinan seorang pemimpin menerapkan gaya yang berbeda untuk divisi atau seksi yang berbeda.
·         Kepemimpinan otokrasi cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi rendah tapi komitmennya tinggi.
·         Kepemimpinan pembinaan cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi sedang dan komitmen rendah.
·         Kepemimpinan demokrasi cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi tinggi dengan komitmen yang bervariasi.
·         Kepemimpinan kendali bebas cocok untuk angggota yang memiliki kompetensi dan komitmen tinggi.

Perilaku Gaya Dasar Kepemimpinan dalam pengambilan keputusan
INSTRUKSI : (Perilaku pemimpin tinggi pengarahan dan rendah dukungan)
 komunikasi satu arah, pemimpin memberikan batasan terhadap peranan pengikutnya dan memberitahu tentang apa, bagaimana, bilamana, dan dimana melaksanakan berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah, pembuatan keputusan, keputusan diumumkan, pelaksanaannya dilakukan dan diawasi secara ketat oleh pemimpin
KONSULTASI : (Perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan tinggi dukungan)
pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan masih membuat keputusan yang sama, tetapi hal ini diikuti dengan meningkatkan banyaknya komunikasi dua arah dan perilaku mendukung dengan berusaha mendengar perasaan pengikut tentang keputusan yang dibuat, ide-ide, dan saran-saran mereka. Pengendalian dan pengambilan keputusan tetap kepada pemimpin.
PARTISIPASI : (Perilaku pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan)
Pemimpin dan pengikut saling tukar-menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Komunikasi dua arah ditingkatkan. Tanggung jawab pemecahan masalah pembuatan keputusan sebagian besar berada pada pihak pengikut
DELEGASI : (Perilaku pemimpin yang rendah dukungan dan pengarahan)
Pemimpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahannya sehingga tercapai kesepakatan mengenai definisi masalah, proses pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan, bawahan memiliki kontrol untuk memutuskan bagaimana cara pelaksanaan tugas, pemimpin meyakini bahwa bawahan memiliki kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka sendiri.


Sumber dan bentuk Kekuasaan
Kekuasaan dapat diperoleh dari jabatan organisasi, pengaruh pribadi, atau keduanya.
Seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain untuk melakukan kerja karena jabatan organisasi yang dijabatannya, maka orang tersebut mempunyai kekuasaan jabatan.
Adapun seseorang yang memperoleh kekuasaan dari para pengikutnya dikatakan mempunyai kekuasaan pribadi.
Peabody membagi atas 4 kategori kekuasaan :
·         Kekuasaan legitimasi (undang-undang, peraturan dan kebijakan)
·         Kekuasaan jabatan,
·         Kekuasaan kompetensi (keahlian teknis dan profesional)
·         Kekuasaan pribadi
French dan Raven membagi atas 5 sumber kekuasaan yang kemudian dikembangkan lagi menjadi 7 :
·         Kekuasaan paksaan (coercive power)
Berdasarkan rasa takut. Sumber kekuasaan diperoleh dari rasa takut.
Pemimpin memilikikemampuan untuk menegakkan hukuman, dampratan, atau pemecatan
·         Kekuasaan keahlian (expert power)
Bersumber dari keahlian kecakapan, atau pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang diwujudkan lewat rasa hormat, dan pengaruhnya terhadap orang lain. Seorang pemimpin yang tinggi kekuasaan keahliannya ini, kelihatannya mempunyai keahlian untuk memberikan fasilitas terhadap perilaku kerja orang lain.
·         Kekuatan legitimasi (legitimate power)
Bersumber pada jabatan yang dipegang oleh pemimpin. Semakin tinggi posisi pemimpin, maka semakin besar pula kekuasaan legitimasinya. Pemimpin yang tinggi kekuasaan legitimasinya mempunyai kecenderungan untuk mempengaruhi orang lain, karena pemimpin  tersebut merasakan bahwa ia mempunyai hak atau wewenang yang diperoleh dari jabatan dalam organisasinya.
·         Kekuasaan referensi (reference power)
Bersumber pada sifat-sifat pribadi dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang tinggi kekuasaan referensinya ini pada umumnya disenangi dan dikagumi oleh orang lain karena kepribadiannya. Kekuatan pimpinan ini sangat tergantung pada kepribadiannya yang mampu menarik para bawahan atau pengikutnya. Kesenangan daya tarik, dan kekaguman para bawahan dapat memberikan identifikasi terhadap pengaruh pimpinannya.
·         Kekuasaan penghargaan (reward power)
Bersumber atas kemampuan untuk menyediakan penghargaan atau hadiah bagi orang lain, seperti misalnya gaji, promosi, atau penghargaan jasa.
·         Kekuasaan informasi (information power) (Raven bekerjasama dengan Kruglanski menambah kekuasaan yang keenam)
Bersumber karena adanya ekses informasi yang dimiliki oleh pemimpin yang dinilai sangat berharga oleh pengikutnya. Sebagai seorang pemimpin, maka semua informasi mengenai organisasi ada padanya, demikian pula informasi yang datang dari luar organisasi.
·         Kekuasaan hubungan (connection power) (pada tahun 1979, Hersey dan Goldsmith mengusulkan kekuasaan ketujuh)
Bersumber pada hubungan yang dijalin oleh pimpinan dengan orang-orang penting dan berpengaruh baik dari luar atau di dalam organisasi. Seorang pemimpin yang tinggi kekuasaan hubungannya ini cenderung meminta saran-saran dari orang lain,karena mereka membantu mendapatkan hal-hal yang menyenangkan dan menghilangkan hal-hal yang tidak menyenangkan dari kekuasaan hubungan ini.

Aplikasi sumber-sumber kekuasaan pada kepemimpinan situasional
Kepemimpinan situasional dapat memberikan perlengkapan untuk memahami dampak potensial dari setiap sumber kekuasaan tersebut. Sebagai seorang pemimpin yang efektif selain menerapkan berbagai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kematangan para pengikut, ia pun seharusnya juga menerapkan berbagai bentuk dan sumber kekuasaan yang sesuai pada pengikut yang sama.

Hubungan aplikasi dari sumber kekuasaan, gaya kepemimpinan dan tingkat kematangan pengikut :
·         Kekuasaan paksaan
Pengikut yang rendah kematangannya biasanya memerlukan perilaku pengarahan yang kuatagar menjadi produktif. Gaya kepemimpinan yang cocok kepada pengikut-pengikut seperti ini ialah sering diberikan instruksi.
·         Kekuasaan hubungan
Ketika seorang pengikut mulai beranjak dari tingkat kematangan, maka perilaku mengarahkan masih diperlukan dan menaikkan perilaku mendukungpun juga dirasakan amat penting. Gaya kepemimpinan Instruksi dan Konsultasi sesuai untuk tingkat kematangan ini dan hasilnya akan lebih efektif.


·         Kekuasaan penghargaan
Pengikut berada pada tingkat kematangan yang berkembang dari rendah ke sedang sering membutuhkan sejumlah perilaku dukungan dan pengarahan yang besar. Gaya konsultasi  sering memperkuat kekuasaan penghargaan ini.
·         Kekuasaan legitimasi
Gaya kepemimpinan yang sesuai secara efektif pada kedua tingkat kematangan sedang ini merupakan gaya konsultasi dan partisipasi.
·         Kekuasaan refrensi
Pengikut yang berada pada tingkat kematangan dari sedang ke tinggi hanya membutuhkan pengarahan yang sedikit tetapi masih memerlukan tingkat tinggi untuk berkomunikasi dan dukungan dari pemimpin. Gaya yang efektif digunakan adalah gaya partisipasi
·         Kekuasaan informasi
Gaya kepemimpinan yang dapat memotivasikan pengikut secara efektif pada rata-rata diatas tingkat-tingkat kematangan ialah partisipasi dan delegasi. Mereka memandang bahwa pemimpin sebagai orang yang mempunyai informasi untuk memelihara dan menyempurnakan pelakssanaan kerja.
·         Kekuasaan keahlian
Pengikut yang sudah berkembang pada suatu tingkat kematangan yang tinggi sering hanya memerlukan sedikit pengarahan dan dukungan. Gaya kepemimpinan yang digunakan adalah gaya kepemimpinan delegasi dan kekuasaan keahlian dari pemimpin.

Gaya instruksi adalah : gaya kepemimpinan yang sesuai untuk keadaan

No comments:

Post a Comment