1. Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling
memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial
antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak
berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang
dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya
adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan,
dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi
sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak
satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau
dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan
hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan
Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol
akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
2.
Definisi Konflik
Konflik menurut Stephen P. Robbins adalah sebuah
proses yang dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah
mempengaruhi secara negatif, atau akan mempengaruhi secara negatif, sesuatu
yang menjadi kepedulian atau kepentingan pihak pertama. Definisi ini mencakup
beragam konflik yang orang alami dalam organisasi, ketidakselarasan tujuan,
perbedaan interpretasi fakta, ketidaksepahaman yang disebabkan oleh ekspektasi
perilaku, dan sebagainya.
3.
Pandangan Tentang Konflik
Terdapat
tiga pandangan tentang konflik, yaitu :
·
Pandangan tradisional, menyatakan bahwa
konflik harus dihindari karena akan menimbulkan kerugian, aliran ini juga
memandang konflik sebagai sesuatu yang sangat buruk, tidak menguntungkan dalam
organisasi. Oleh karena itu konflik harus dicegah dan dihindari sebisa mungkin
dengan mencari akar permasalahan.
·
Pandangan hubungan manusia. Pandangan
behaviorial (yang berhubungan dengan
tingkah laku) ini menyatakan bahwa konflik merupakan
sesuatu yang wajar, alamiah dan tidak terelakan dalam setiap kelompok manusia.
Konflik tidak selalu buruk karena memiliki potensi kekuatan yang positif di
dalam menentukan kinerja kelompok, yang oleh karena itu konflik harus dikelola
dengan baik.
·
Pandangan interaksionis. Yang menyatakan bahwa konflik bukan sekedar sesuatu kekuatan positif
dalam suatu kelompok, melainkan juga mutlak perlu untuk suatu kelompok agar
dapat berkinerja positif. Oleh karena itu konflik harus diciptakan. Pandangan
ini didasari keyakinan bahwa organisasi yang tenang, harmonis, damai ini justru
akan membuat organisasi itu menjadi statis, stagnan dan tidak inovatif.
Dampaknya dalam kinerja organisasi menjadi rendah.
4.
Jenis Konflik
Terdapat 3 jenis konflik menurut Robbins :
·
Konflik tugas, yaitu konflik atas
isi dan sasaran pekerjaan.
·
Konflik hubungan, yaitu konflik
berdasarkan hubungan interpersonal.
·
Konflik proses, yaitu konflik atas
cara melakukan pekerjaan
5.
Proses Konflik
Menurut Stephen P.Robbin, proses konflik dapat
dipahami sebagai sebuah proses yang terdiri atas lima tahapan : potensi
pertentangan atau ketidakselarasan, kognisi dan personalisasi, maksud,
perilaku, dan akibat.
Tahap 1 : Potensi
Pertentangan atau Ketidakselarasan
Tahap pertama dalam proses konflik adalah munculnya
kondisi-kondisi yang menciptakan peluang bagi pecahnya konflik. Kondisi-kondisi
tersebut tidak mesti mengarah langsung ke konflik, tetapi salah satu darinya
diperlukan jika konflik hendak muncul. Kondisi-kondisi tersebut (sebab atau
sumber konflik) dapat dipadatkan ke dalam tiga kategori umum : komunikasi,
struktur, dan variabel-variabel pribadi.
Komunikasi, komunikasi dapat menjadi sumber konflik. Komentar dari beberapa
individu yang sedang berbicara mempresentasikan dua kekuatan berlawanan yang
muncul akibat kesulitan semantik, kesalahpahaman, dan kegaduhan pada saluran
komunikasi.Potensi konflik meningkat ketika terjadi terlalu sedikit atau terlalu banyak komunikasi. Meningkatnya komunikasi menjadi fungsional sampai pada suatu titik,
dan di atasnya dengan terlalu banyak komunikasi, meningkat pula
potensi konflik.Terlalu banyak dan juga terlalu sedikit komunikasi dapat menjadi dasar bagi timbulnya konflik.
Struktur, istilah struktur digunakan dalam konteks ini untuk mencakup variabel-variabel
seperti ukuran, kadar spesialisasi dalam tugas-tugas yang diberikan kepada
anggota kelompok, kejelasan yuridiksi, keserasian antara anggota dan tujuan,
gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan kadar ketergantungan antarkelompok.
Penelitian menunjukkan bahwa ukuran dan spesialisasi bertindak sebagai daya
yang merangsang konflik. Semakin besar kelompok dan semakin terspesialisasi
kegiatan-kegiatannya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik. Masa
kerja dan konflik berkorelasi terbalik. Potensi konflik cenderung paling tinggi
jika anggota-anggota kelompok lebih muda dan ketika tingkat perputaran karyawan
tinggi.
Kelompok-kelompok
dalam organisasi memiliki tujuan yang beragam. Beragamnya tujuan di antara
kelompok-kelompok ini merupakan salah satu sumber utama konflik. Ada indikasi
bahwa gaya kepemimpinan yang melekat dapat meningkatkan potensi konflik, tetapi
bukti pendukungnya tidak kuat. Selain itu, terdapat pula indikasi bahwa
partisipasi dan konflik sangat berkorelasi karena partisipasi mendorong
dipromosikannya perbedaan. Sistem imbalan juga diketahui menciptakan konflik
ketika perolehan salah seorang anggota dipandang merugikan anggota lain.
Terakhir, jika sebuah kelompok bergantung pada kelompok lain atau saling
ketergantungan memungkinkan satu kelompok mendapat hasil sembari merugikan
kelompok lain,daya konflik pun akan terangsang.
Variabel-variabel pribadi, meliputi kepribadian, emosi, dan nilai-nilai.
Tahap 2 : Kognisi dan personalisasi
Yaitu tahap dimana isu-isu konflik biasanya didefinisikan dan pada
gilirannya akan menentukan jalan panjang menuju akhir penyelesaian konflik.
Sebagai contoh, emosi yang negatif dapat menyebabkan peremehan persoalan,
menurunnya tingkat kepercayaan dan interpretasi negatif atas perilaku pihak
lain. Sebaliknya, perasaan positif dapat meningkatkan kemampuan untuk melihat
potensi hubungan diantara elemen-elemen suatu masalah, memandang secara lebih
luas suatu situasi dan mengembangkan berbagai solusi yang lebih inovatif. Konflik disyaratkan adanya persepsi (perceived)dengan kata
lain bahwa tidak berarti konflik itu personalisasi. Dengan kata
lain, “A mungkin sadar bahwa B dan A benar-benar tidak sejalan. Tetapi hal itu
tidak membuat A merasa tegang atau cemas, dan tidak berpengaruh pada apa pun
terhadap perasaan A kepada B” Selanjutnya konflik pada tingkatan perasaan (felt) yaitu ketika orang mulai terlibat secara emosional, para pihak merasakan kecemasan, ketegangan, frustasi, atau rasa
bermusuhan.
Tahap
3 : Maksud (Intentions)
Maksud mengintervensi antara persepsi serta emosi orang dan
perilaku luaran mereka. Maksud adalah keputusan untuk bertindak dengan cara
tertentu. Banyak konflik bertambah parah semata-mata karena salah satu pihak
salah dalam memahami maksud pihak lain. Selain itu, biasanya ada perbedaan yang
besar antara maksud dan perilaku, sehingga perilaku tidak selalu mencerminkan
secara akurat maksud seseorang. muncul karena salah-satu pihak salah dalam
memahami maksud pihak lain.
Dengan menggunakan dua dimensi yaitu pertama, sifat kooperatif (kadar sampai mana salah-satu pihak berusaha
memuaskan kepentingan pihak lain). Kedua,
sifat tegas (kadar sampai mana salah-satu pihak berupaya memperjuangkan kepentingannya sendiri). Adapun lima maksud penanganan konflik berhasil diidentifikasikan,
yaitu sebagai berikut: bersaing (tegas dan tidak kooperatif), bekerjasama
(tegas dan kooporatif), menghindar (tidak tegas dan tidak kooperatif), akomodatif
(tidak tegas dan kooperatif), dan kompromis
(tengah-tengah antara tegas dan kooperatif).
-
Bersaing, hasrat untuk memuaskan kepentingan
pribadi seseorang tanpa memedulikan dampaknya terhadap orang lain yang
berkonflik dengannya.
-
Bekerja Sama, merupakan suatu situasi di mana
pihak-pihak yang berkonflik ingin sepenuhnya memuaskan kepentingan kedua belah
pihak.
-
Menghindar, merupakan hasrat untuk menarik diri
dari atau menekan sebuah konflik.
-
Akomodatif, kesediaan salah satu pihak yang
berkonflik untuk menempatkan kepentingan lawannya di atas kepentingannya
sendiri.
-
Kompromis, suatu situasi di mana masing-masing
pihak yang berkonflik bersedia mengalah dalam satu atau lain hal.
Tahap 4 : Perilaku
Meliputi pernyataan aksi dan reaksi yang dibuat oleh pihak-pihak yang
berkonflik.
Dengan demikian dalam konflik dibutuhkan teknik-teknik manajemen konflik sehingga mendorong konflik mencapai tingkat konflik
yang diinginkan. Untuk meredakan konflik yang ada,
diperlukan untuk mempelajari teknik-teknik manajemen konflik. Manajemen konflik
adalah pemanfaatan teknik-teknik resolusi dan dorongan (stimulasi) untuk
mencapai tingkat konflik yang diinginkan.
Tabel
– Teknik-Teknik Manajemen Konflik
Teknik-teknik penyelesaian konflik
|
|
Pemecahan
masalah
|
Pertemuan tatap
muka pihak-pihak yang berkonflik untuk mengidentifikasi masalah dan
menyelesaikannya melalui diskusi terbuka
|
Tujuan
superordinat
|
Menetapkan
tujuan bersama yang tidak dapat dicapai tanpa kerja sama dari setiap pihak
yang berkonflik
|
Ekspansi sumber
daya
|
Ketika sebuah
konflik timbul karena kelangkaan sumber daya (uang,promosi,kesempatan,ruang
kantor) ekspansi sumber daya dapat menciptakan solusi yang saling
menguntungkan
|
Penghindaran
|
Penarikan diri
dari, atau penyembunyian, konflik
|
Memperhalus
|
Meminimalkan
perbedaan sembari menekankan kepentingan bersama di antara pihak-pihak yang
berkonflik
|
Berkompromi
|
Masih
masing-masing pihak yang berkonflik menyerahkan sesuatu yang bernilai
|
Perintah
otoratif
|
Manajemen
menggunakan wewenang formalnya untuk menyelesaikan konflik dan kemudian
menyampaikan keinginannya kepada pihak-pihak yang terlibat
|
Mengubah
variabel manusia
|
Menggunakan
teknik-teknik perbuahan perilaku seperti pelatihan hubungan insani untuk
mengubah sikap dan perilaku yang menyebabkan konflik
|
Mengubah
variabel struktural
|
Mengubah
struktur organisasi formal dan pola-pola interaksii dari pihak-pihak yang
berkonflik melalui rancang ulang pekerjaan, pemindahanm penciptaan posisi
koordinasi, dan sebagainya.
|
Teknik-teknik stimulasi konflik
|
|
Komunikasi
|
Menggunakan
pesan-pesan ambigu atau yang sifatnya mengancam untuk menaikkan tingkat
konflik
|
Memasukkan orang
luar
|
Menambahkan
karyawan ke suatu kelompok dengan latar belakang, nilai-nilai, sikap, atau
gaya manajerialnya berbeda dari anggota-anggota yang ada sekarang
|
Restrukturisasi
organisasi
|
Menata ulang
kelompok-kelompok kerja, mengubah aturan dan ketentuan, meningkatkan
kesalingketergantungan, dan membuat perubahan struktural yang diperlukan
untuk menggoyang status quo
|
Membuat kambing
hitam
|
Menunjuk seorang
pengkritik untuk secara sengaja mendebat posisi mayoritas yang digenggam oleh
kelompok
|
Sumber : berdasarkan S.P.Robbins, Managing Organizational Conflict:A Nontraditional Approach (upper
Saddle River,NJ:Prentice Hall,1974), hal 59-89
Tahap 5 : Akibat
Jalinan aksi reaksi antara pihak yang berkonflik
menghasilkan konsekuensi. Akibat atau konsekuensi ini bisa bersifat fungsional,
dalam arti konflik tersebut menghasilkan kinerja kelompok, atau juga bersifat
disfungsional karena justru menghambat kinerja kelompok.
Akibat Fungsional, menjelaskan bahwa konfik dapat menjadi suatu penggerak yang
meningkatkan kinerja kelompok. Konflik bersifat konstruktif ketika hal tersebut
memperbaiki kualitas keputusan, merangsang kreativitas dan inovasi, mendorong
minat dan keingintahuan di antara anggota-anggota kelompok, menyediakan media
atau sarana untuk mengungkapkan masalah dan menurunkan ketegangan, serta
menumbuhkan suasana yang mendorong evaluasi diri dan perubahan. Selain itu,
heterogenitas antaranggota kelompok dan organisasi dapat meningkatkan
kreativitas, memperbaiki kualitas keputusan dan memfasilitasi perubahan dengan
cara meningkatkan fleksibilitas anggota.
Akibat Disfungsional, menjelaskan bahwa konflik dapat menghambat kinerja dari sebuah
kelompok. Di antara konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan tersebut,
terdapat lambannya komunikasi, menurunnya kekompakan kelompok, dan subordinasi
tujuan kelompok oleh dominasi perselisihan antaranggota. Yang lebih ekstrem,
konflik dapat menghentikan kelompok yang sedang berjalan dan secara potensial
mengancam kelangsungan hidup kelompok.
Menciptakan Konflik
Fungsional, cara organisasi menciptakan konflik
fungsional adalah dengan cara memberi penghargaan kepada orang yang berbeda
pendapat dan menghukum mereka yang suka menghindari konflik.
No comments:
Post a Comment